ZONAPUBLIK.CO.ID — Mahasiswa Institut Teknologi PLN (ITPLN), Septia Maqrifah dan Rintan Nimas Mutiara, meraih Juara 3 Mining Innovation Research and Academic Competition (MINERVA) 2026 yang digelar HIMATA Universitas Jember. Gagasan PRISMA yang mereka usung menawarkan cara pandang baru terhadap pertambangan, yakni memadukan mineral primer dari tambang konvensional dengan mineral sekunder dari limbah elektronik. Pendekatan ini menyoroti potensi kawasan perkotaan sebagai sumber material alternatif untuk mendukung transisi energi.
Kompetisi bertema "From the Earth, to the Earth: Mining the Path to a Sustainable Future" itu diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Septia mengaku awalnya ragu karena latar belakang jurusannya, Teknik Sistem Energi, dinilai kurang relevan dengan tema pertambangan.
Keraguan itu hilang setelah ia mencermati subtema energi terbarukan dalam guidebook kompetisi. Dari situ ia melihat celah untuk menghubungkan perspektif transisi energi dengan sektor pertambangan.
Dari Energi Fosil ke Energi Mineral
Karya PRISMA dikembangkan selama kurang lebih satu bulan. Septia dan tim berangkat dari satu persoalan mendasar: peralihan dari energi fosil ke energi bersih tidak menghapus ketergantungan pada sumber daya alam, melainkan menggesernya ke mineral.
Panel surya butuh material berbasis silikon. Baterai kendaraan listrik butuh lithium. Keduanya menuntut pasokan mineral yang tidak bisa dipenuhi dari satu sumber saja.
"Transisi energi ternyata membawa perpindahan ketergantungan, dari energi fosil menjadi energi mineral. Teknologi-teknologi transisi energi membutuhkan berbagai mineral," kata Septia.
Perkotaan sebagai Lahan Tambang Baru
PRISMA menawarkan integrasi antara mineral primer dan mineral sekunder. Mineral primer diperoleh dari aktivitas pertambangan, sedangkan mineral sekunder berasal dari limbah elektronik atau e-waste.
Pendekatan ini memperkenalkan konsep urban mining, yang memandang kawasan perkotaan sebagai sumber material yang bisa dimanfaatkan kembali. Limbah elektronik yang selama ini dianggap persoalan lingkungan diposisikan sebagai bahan baku sekunder.
"PRISMA menggabungkan pemanfaatan mineral primer yang ditambang dari dalam bumi dengan mineral sekunder yang berasal dari e-waste. Jadi, kami tidak hanya melihat bumi sebagai sumber mineral, tetapi juga perkotaan sebagai 'lahan tambang' baru melalui konsep urban mining," tutur Septia.
Pertambangan Masa Depan yang Lebih Sirkular
Menurut Septia, pendekatan itu membuat gagasan PRISMA relevan dengan konsep future mining. Pertambangan masa depan tidak cukup berorientasi pada pengambilan mineral dari bumi, tetapi perlu menjadi bagian dari sistem penyediaan material yang lebih sirkular.
Integrasi mineral primer dan sekunder memungkinkan kebutuhan material untuk teknologi transisi energi dipenuhi dari lebih dari satu sumber. Pemanfaatan mineral sekunder juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap penambangan primer sekaligus memberi nilai tambah bagi limbah elektronik.
"Pendekatan inilah yang mencerminkan pertambangan masa depan: lebih sirkular, adaptif terhadap kebutuhan teknologi, dan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan," ujar Septia.
Tahapan Kompetisi dan Peluang di Indonesia
MINERVA 2026 berlangsung melalui beberapa tahap. Peserta mengirimkan esai ilmiah lengkap beserta persyaratan administrasi, lalu panitia memilih lima besar finalis.
Finalis wajib menyusun poster dan materi presentasi. Poster diunggah melalui akun Instagram @minervahimata.unej untuk dinilai, sementara presentasi menjadi tahapan final. Seluruh rangkaian kompetisi digelar secara daring.
Bagi Septia, kompetisi ini memberi ruang untuk mengembangkan gagasan lintas disiplin. Latar belakang Teknik Sistem Energi justru membantunya melihat persoalan pertambangan dari sudut pandang kebutuhan material dalam transisi energi.
Potensi PRISMA di Indonesia
Indonesia memiliki kekayaan mineral primer sekaligus potensi mineral sekunder dari limbah elektronik yang terus bertambah. Kombinasi itu, kata Septia, membuka peluang pengembangan PRISMA di dalam negeri.
Implementasinya dapat dilakukan bertahap melalui kolaborasi antara perusahaan pertambangan, industri pengolahan mineral, dan sektor pengelolaan limbah elektronik.
Prestasi ini menempatkan ITPLN dalam peta inovasi pertambangan berkelanjutan di tingkat nasional. Gagasan urban mining yang diusung Septia dan Rintan menyoroti satu hal: sumber daya masa depan tidak hanya berasal dari perut bumi, tetapi juga dari tumpukan limbah elektronik di sekitar kita.