JAKARTA - PT Huayou Indonesia menegaskan operasional smelter nikel perseroan tetap berjalan normal di tengah dinamika kebijakan sektor pertambangan.
Kondisi ini tercapai karena perusahaan masih memiliki pasokan bijih nikel yang terjaga untuk mendukung proses produksi. Keberlanjutan operasional tersebut menjadi sinyal positif bagi industri pengolahan nikel nasional.
Director of Public Affairs Huayou Indonesia, Stevanus, menyampaikan bahwa aktivitas pabrik hingga kini tidak mengalami gangguan berarti. Ketersediaan bahan baku menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas produksi smelter perseroan.
Dengan kondisi tersebut, Huayou tetap mampu menjalankan komitmennya terhadap mitra industri dan tenaga kerja.
Harapan Kepastian RKAB 2026
Meski operasional masih terkendali, Huayou berharap proses penerbitan RKAB 2026 dapat segera memperoleh kepastian. Kejelasan kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga kesinambungan pasokan bijih nikel ke fasilitas pengolahan. Kepastian RKAB juga membantu perusahaan menyusun perencanaan produksi jangka menengah secara lebih akurat.
Stevanus menuturkan bahwa kelancaran penerbitan RKAB akan memberikan kepastian bagi seluruh pelaku industri. Dengan adanya kepastian tersebut, perusahaan dapat memastikan pasokan bahan baku tetap aman. Hal ini sekaligus mendukung kelangsungan industri pengolahan nikel secara nasional.
Sinkronisasi Kebijakan Produksi Nikel
Huayou meyakini pemerintah akan menyesuaikan target produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 sesuai kebutuhan industri pengolahan. Penyesuaian ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara produksi dan keberlanjutan cadangan. Sinkronisasi data antar kementerian dan lembaga menjadi kunci efektivitas kebijakan tersebut.
Menurut Stevanus, kebijakan produksi secukupnya akan memberikan manfaat bagi banyak pihak. Industri tetap memperoleh bahan baku yang dibutuhkan, sementara cadangan nikel nasional dapat terjaga. Pada saat yang sama, aktivitas industri dan lapangan kerja tetap berjalan secara berkelanjutan.
Proyek Smelter dan Tantangan Pasokan
Huayou mengelola sejumlah proyek smelter nikel di Indonesia, termasuk yang berbasis teknologi high pressure acid leach. Perusahaan juga menjalin kemitraan strategis dengan PT Vale Indonesia Tbk dan Ford dalam pengembangan proyek tertentu. Keberadaan proyek-proyek tersebut memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok nikel global.
Namun, proyeksi industri menunjukkan potensi kekurangan pasokan bijih nikel domestik pada 2026. Kebutuhan smelter diperkirakan meningkat signifikan, sementara target produksi nasional justru menurun. Kondisi ini berpotensi menciptakan kesenjangan pasokan yang perlu diantisipasi sejak dini.
Implikasi Impor dan Keberlanjutan Industri
Kekurangan pasokan domestik berpotensi mendorong peningkatan impor bijih nikel untuk menopang operasi smelter. Impor bijih nikel dinilai memiliki biaya lebih tinggi, baik dari sisi harga material maupun transportasi. Selain itu, tidak seluruh bijih impor dapat diolah secara optimal di fasilitas domestik.
Pemangkasan produksi bijih nikel juga diperkirakan dapat menurunkan kapasitas smelter nasional. Meski demikian, pasokan impor dipandang mampu menjaga operasional agar tetap berjalan. Dengan pengelolaan kebijakan yang tepat, industri smelter diharapkan tetap berkelanjutan dan kompetitif.