JAKARTA - Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional kini difokuskan pada sektor protein hewani, khususnya unggas.
Pemerintah menargetkan pembangunan hilirisasi ayam terintegrasi yang saat ini mulai berjalan dapat rampung dalam waktu 1,5 tahun. Langkah ini dipandang strategis untuk memperkokoh swasembada protein sekaligus meningkatkan kapasitas ekspor produk unggas nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan percepatan tersebut saat ditemui usai kegiatan Pelepasan Ekspor Unggas dan Produk Turunannya sebanyak 545 ton senilai Rp18,2 miliar ke Jepang, Singapura dan Timor Leste di Jakarta.
"Kita sudah groundbreaking. Kita bangun mulai ini tahun. Mudah-mudahan maksimal dua tahun sudah selesai. Kalau bisa satu tahun setengah," kata Amran.
Menurut Mentan, sektor ayam dan telur nasional saat ini telah mencapai swasembada, bahkan mencatatkan ekspor. Dengan capaian tersebut, penguatan hilirisasi dinilai menjadi langkah lanjutan untuk memperbesar nilai tambah dan memperkuat daya saing global.
Bangun Ekosistem Terintegrasi dari Hulu hingga Hilir
Model pengembangan yang dirancang pemerintah berupa ekosistem terintegrasi. Sistem ini mencakup pembangunan pabrik pakan, pembibitan ayam atau day old chicken DOC, hingga pengolahan produk akhir. Dengan integrasi tersebut, rantai produksi diharapkan menjadi lebih efisien dan mampu bersaing di pasar internasional.
Melalui hilirisasi terintegrasi, pemerintah berharap Indonesia memperkuat posisi sebagai lumbung protein dunia berbasis unggas sekaligus mendorong peningkatan ekspor berkelanjutan.
"Kita kan sepakat bagaimana menjadi lumbung pangan dunia. Karbohidrat dan protein. Sekarang protein ini khususnya dari unggas sudah swasembada dan ekspor," tutur Amran.
Hilirisasi ayam secara terintegrasi dimulai di enam daerah guna memperkuat swasembada protein nasional, meningkatkan nilai tambah, serta menjaga stabilitas pasokan pangan bagi masyarakat secara berkelanjutan. Program ini menjadi bagian dari visi besar menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemasok protein unggas dunia.
Langkah strategis itu telah ditandai dengan Groundbreaking Pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi Fase I di enam titik oleh Danantara yang dipusatkan di Malang, Jawa Timur.
Pada tahap awal, pengembangan dilakukan di enam lokasi, yaitu Jawa Timur Malang, Sulawesi Selatan Bone, Gorontalo Gorontalo Utara, Kalimantan Timur Paser, Nusa Tenggara Barat Sumbawa, dan Lampung Lampung Selatan, sebagai bagian dari rencana pengembangan nasional di 30 titik.
Antisipasi Lonjakan Kebutuhan Nasional dan Program MBG
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda mengatakan program hilirisasi itu diinisiasi Mentan Amran sebagai langkah antisipatif negara untuk memastikan ketersediaan pasokan daging ayam dan telur yang aman, berkelanjutan, merata, dan berpihak pada peternak rakyat.
"Seiring meningkatnya kebutuhan nasional, khususnya untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis MBG," ujarnya.
Kebutuhan tambahan untuk mendukung MBG diperkirakan mencapai 1,1 juta ton daging ayam dan 774 ribu ton telur per tahun. Dengan proyeksi sebesar itu, pembangunan hilirisasi menjadi krusial agar pasokan tetap stabil dan harga terjaga.
Hilirisasi ayam merupakan pembangunan ekosistem perunggasan nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Ekosistem tersebut mencakup penguatan pembibitan ayam mulai dari grand parent stock GPS, parent stock PS, hingga final stock FS. Selain itu, pengembangan pakan berbasis bahan baku dalam negeri juga menjadi fokus agar ketergantungan impor dapat ditekan.
Selanjutnya, peningkatan kesehatan hewan, pembangunan rumah potong hewan unggas RPHU dan cold chain, pengolahan daging dan telur, hingga logistik dan pemasaran turut diperkuat dalam kerangka ekosistem ini. Dengan sistem terintegrasi, pemerintah berharap produktivitas dan efisiensi meningkat signifikan.
Dukungan Investasi dan Target Dampak Ekonomi Besar
Dari sisi pembiayaan, pemerintah menyiapkan dukungan investasi sekitar Rp20 triliun melalui Danantara. Selain itu, akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat KUR hingga Rp50 triliun disiapkan bagi peternak dan koperasi, termasuk melalui skema Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih.
CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara BPI Danantara Rosan Roeslani menyampaikan pihaknya saat ini mendukung enam proyek hilirisasi strategis dengan nilai investasi sekitar 7 miliar dolar Amerika Serikat yang seluruhnya menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto.
“Proyek hilirisasi selalu menjadi prioritas Bapak Presiden. Karena itu percepatan terus dilakukan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh ekonomi masyarakat,” kata Rosan saat meresmikan Groundbreaking Pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi Fase I bersama jajaran di Malang, Jawa Timur.
Melalui proyek hilirisasi ayam terintegrasi, pemerintah memproyeksikan tambahan produksi sebesar 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur per tahun. Program itu diperkirakan menciptakan sekitar 1,46 juta lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan bruto peternak hingga Rp81,5 triliun per tahun.
Dari sisi sosial, pasokan protein tersebut diharapkan menopang kebutuhan sekitar 82,9 juta penerima manfaat MBG sekaligus berkontribusi menurunkan angka stunting dan kemiskinan.
Dengan target penyelesaian maksimal dua tahun dan harapan bisa rampung dalam 1,5 tahun, proyek hilirisasi ayam terintegrasi menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan ekspor, serta menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang luas bagi masyarakat.